MY FAMILY

Selasa, 17 Januari 2012

Umat Islam Masa Kini




Masih banyak Negara dengan mayoritas muslim yang lebih memilih system sekuler daripada system islam. Mereka trauma oleh keterbelakangan umat islam sebelumnya dan terkagum-kagum dengan kemajuan barat. Bila mendengar hukum islam dalam tergambar dalam benaknya suatu kekejaman yang tak manusiawi. Karenanya mereka lebih suka dengan hokum warisan penjajah. Islam dianggapnya hanya cukup diterapkan dalam ibadah mahdhah saja, sedangkan masalah Negara dan kehidupan social harus diatur dengan ideologi dan system buatan.
Itulah ideology sekuler, mereka tidak menyadari bahwa umat islam justru jaya saat melaksanakan islam secara kaffah dan mundur saat mereka menjauhi nilai-nilai islam.
Pemikiran sekuler mempertentangkan antara agama dan ideologi. Mereka berpendapat bahwa agama hanya berfungsi mengatur hubungan manusia dengan tuhannya dalam bentuk ibadah ritual, sedangkan hal-hal yang menyangkut ibadah social, berbangsa dan bernegara diatur oleh system Negara yang berdasar ideology tertentu. Pemikiran seperti ini muncul karena ketidak percayaan  bahwa agama dapat menyelesaikan permasalahan umat manusia. Agama dianggapnya membelunggu kemajuan.
Pola pandang sekuler jelas bertentangan dengan pola pandang islam dan bertentangan dengan fitrah ajaran islam yang utuh. Permasalahan antara islam dan kehidupan social justru dipandangsesuatu kehinaan. Tidak benar bila islam membelenggu kemajuaan hidup manusia. Kejayaan islam justru dapat dicapai pada saat islam tampil secara kaffah. Kemunduran yang terjadi dalam kalangan umat islam justru datang pada saat mereka melepaskan diri dari api islam dan memegangi abunya. Karena itu kebangkitan umat islam tidak dengan menelan sekularisme, tetapi dengan kembali menghidupkan ruh islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Islam adalah agama yang sempurna (kamil) dan menyeluruh (syamil) yang tidak hanya membicarakan akhirat tapi juga dunia, mengurus yang lahir dan yang batin, membangun individu juga social, peradaban dan akhlak. Tidak ada nilai yang ditinggalkan oleh islam dari masalah kecil, sedang hingga besar. Itulah ketetapan allah SWT yang telah menyempurnakan agamanya sebagai nikmat bagi manusia seluruh alam sampai akhir zaman.
Allah Swt berfirman
“pada hari ini telah aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah aku cukupkan kepadamu nikmatku, dan telah aku ridhai islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al Maidah: 3)

Senin, 26 Desember 2011

Jumat, 23 Desember 2011

TAKHRIJ HADIST


TAKHRIJ HADIST
A.  Pengertian Takhrij Hadist

       Takhrij menurut bahasa memiliki beberapa makna. Yang paling mendekati disini adalah adalah berasal dari kata kharaja (خرج) yang artinya nampak dari tempatnya atau keadaaannya, dan terpisah, dan kelihatan. Demikian juga kata al-ikhraj (الاخرج) yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya. Dan kata al-makhraj (المخرج) yang artinya tempat keluar dan akhraj al-hadist wa kharajahu artinya menampakkan dan memperlihatkan hadist kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarganya.
       Sedangkan menurut istilah muhaditsin, takhrij diartikan dalam beberapa pengertian :
1. Sinonim dan ikhraj, yakni seorang rawi mengutarakan suatu hadist dengan menyebutkan
Sumberkeluarnya (pemberita) hadist tersebut.
2. Mengeluarkan hadist-hadist dari kitab-kitab, kemudian sanad-sanadnya disebutkan.
3.  Menukil hadist dari kitab-kitab sumber (diwan hadist) dengan menyebut mudawinnya serta dijelaskan martabat hadistnya.
Rumusan Mahmud al-Thahhah tentang ta’rif takhrij adalah :
التخريج هو الدلالة على موضع الحديث فى مصادره الاصلية التى اخرجته بسنده ثم بيان مرتبته عند الحاجة

“Takhrij ialah penunjukan terhadap tempat hadist dalam sumber aslinya yang dijelaskan sanadnya dan martabatnya sesuai dengan keperluan”.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa takhrij meliputi kegiatan :
a. Periwayatan (penerimaan, perawatan, pentadwinan, dan penyampaian) hadist.
b. Penukilan hadist dari kitab-kitab asal untuk dihimpun dalam suatu kitab tertentu.
c. Mengutip hadist-hadist dari kitab-kitab fan (tafsir, tauhid, fiqh, tasawuf, dan akhlak) dengan menerangkan sanad-sanadnya.
d. Membahas hadist-hadist sampai diketahui martabat kualitas (maqbul-mardudnya).
Metode TakhrijTakhrij sebagai metode untuk menentukan kehujahan hadist itu terbagi kedalam 3 kegiatan, yakni (1.) Naql, (2.) Tashhih, (3.) I’tibar.
1. Takhrij Naql atau Akhdzu.Takhrij dalam bentuk ini kegiatannya berupa penelusuran penukilan dan pengambilan hadist dari beberapa kitab/diwan hadist (mashadir al-asliyah), sehingga dapat teridentifikasi hadist-hadist tertentu yg dikehendaki lengkap dengan rawi dan sanadnya masing-masing.Berbagai cara pentakhrijan dalam arti naql telah banyak diperkenalkan oleh para ahli hadist, diantaranya yg dikemukakan oleh Mahmud al-Tahhan yg menyebutkan 5 tekhnik dalam menggunakan metode takhrij sebagai al-Naql sbb :
a. Takhrij dengan mengetahui shahabat yg meriwayatkan hadist.
b. Takhrij dengan mengetahui lafazh asal matan hadist.
Takhrij dengan cara mengetahui lafazh matan hadist yg kurang dikenal.
Takhrij dengan mengetahui tema atau pokok bahasan hadist.
Takhrij dengan mengetahui matan dan sanad hadist.

a. Metode takhrij / al-Naql melalui pengetahuan tentang nama shahabat perawi hadist.

Metode ini hanya digunakan bilamana nama shahabat itu tercantum pd hadist yg akan ditakhrij. Apabila nama shahabat tsb tidak tercantum dalam hadist itu dan tidak dapat diusahakan untuk mengetahuinya, maka sudah barang tentu metode ini tidak dapat dipakai.

Apabila nama shahabat tercantum pada hadist tersebut, atau tidak tercantum tetapi dapat diketahui dengan cara tertentu, maka dapat digunakan 3 macam kitab, yaitu : (1.) kitab-kitab musnad, (2.) kitab-kitab mu’jam, dan (3.) kitab-kitab Athraf.

Kitab-kitab musnad adalah kitab-kitab yang disusun berdasarkan nama shahabat, atau hadist-hadist para shahabat dikumpulkan secara tersendiri.

Kitab-kitab musnad yang ditulis oleh para ahli hadist itu sangatlah banyak, sebagian diantaranya sebagai berikut :

a. Musnad Ahmad bin Hanbal.
b. Musnad Abu Baqr Sulaiman ibn Dawud al-Thayalisi.
c. Musnad Ubaidillah, dll.

Kitab Mu’jam adalah kitab yg ditulis menurut nama-nama shahabat, guru, negeri atau yg lainnya, yg nama-nama tsb diurutkan secara alfabetis. Kitab-kitab tersebut diantaranya :

a. Mu’jam al-Shahabah li Ahmad ibn al-Hamdani.
b. Mu’jam al-Shahabah li abi Ya’la Ahmad ‘Ali al-Mashili, dan lain-lain.

Kitab Athraf adalah kitab yg penyusunannya hanya menyebutkan sebagian matan hadist yg menunjukan keseluruhannya. Kemudian sanad-sanadnya, baik secara keseluruhan atau dinisbatkan pada kitab-kitab tertentu. Yang mana kitab ini biasanya mengikuti musnad shahabat. Kitab-kitab Athraf itu diantaranya adalah :

a. Athraf al-Shahihain li Abi Mas’ud Ibrahim Ibn Muhamad al-Dimasyiqi.
b. Athraf al-Shahihain li Abi Muhamad Khalaf ibn Muhamad al-Wasithi, dll.

Manfaat dari kitab-kitab Athraf adalah :

1. Menerangkan berbagai sanad secara keseluruhan dalam satu tempat, dengan demikian dapat diketahui apaka hadist itu gharib, aziz, atau masyhur.
2. Memberitahu perihal siapa saja yg diantara para penyusun kitab-kitab hadist yg meriwayatkan dan dalam bab apa saja mereka mencantumkannya.
3. Memberitakan tentang berapa jumlah dalam kitab-kitab yg dibuat athrafnya.

Dalam kitab-kitab Athraf hanya diterangkan perihal sebagian matan hadist saja, maka untuk mengetahui lebih lengkap perlu merujuk pada kitab-kitab sumber yg populer, yg ditunjukan oleh kitab Athraf tersebut.

1. Kitab-kitab hadist yang disusun untuk hadist-hadist yg popular dimasyarakat diantaranya :
a. Al-Tadzkirah fi Ahadist al-musyitahirah li al-Zarkasyi.
b. Al-Darur al-Muntatsirah fi Ahadist al-Mustahirah li al-Suyuti, dll
2. Kitab yg disusun secara alfabetis, antara lain : Al-Jami’ al’Shadhir min hadist al-Basyir al-Nadhir Li Jalal al-Din ‘Abdurahman Abi Bakr al-Suyuthi.
3. Kitab-kitab kunci atau indeks bagi kitab-kitab tertentu antara lain :
a. Miftah al-Shahihain li al-Tauqadi.
b. Miftah li Ahadist Muwatha’ Malik, dll.

b. Metode Takhrij /al-Naql melalui pengetahuan salah satu lafazh Hadist.
Metode ini hanya menggunakan satu kitab penunjuk saja, yaitu : “Al-Mu’jam al-Mufarhas li alfazh al-Hadist al-Nabawi”. Kitab ini merupakan susunan orang orientalis barat yang bernama Dr.A.J. Wensink, Dr.Muhamad Fuad ‘Abd al-Baqi, dll.

Kitab-kitab yang jadi rujukan dari kitab ini adalah kitab yang Sembilan, diantaranya : Shahih Bukhari, shahih Muslim, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Muwatha Malik, Musnad Ahmad dan Sunan ad-Darimi. Yang mana masing-masing mempunyai kode tersendiri.

c. Metode Takhrij /al-Naql melalui pengetahuan tema hadist.
Metode ini akan mudah digunakan oleh orang yang sudah terbiasa dan ahli dalam hadist. Orang yang awam akan hadist akan sulit untuk menggunakan metode ini. Karena yg dituntut dari metode ini adalah kemampuan menentukan tema dari suatu hadist yang akan ditakhrijkan. Baru kemudian kita membuka kitab hadist pada bab dan kitab yang mengandung tema tersebut.

Adapun kitab-kitab yang digunakan dalam metode ini adalah kitab-kitab yg disusun secara tematis. Serta kitab-kitab ini dapat dibedakan dalam 3 kelompok, yaitu :

1. Kitab-kitab yang berisi seluruh tema Agama, diantaranya :
a. Al-Jami’ al-Shahih Li al-Bukhari.
b. Al-Jami’ al-Shahih Li Muslim.
c. Mustakhraj al-Ismaili, dll.
2. Kitab-kitab yang berisi sebagian banyak tema-tema Agama, seperti kitab Sunan, yaitu :
a. Sunan Abi Dawud Li Sulaiman Ibn al-Asy’ats al-Sijistan.
b. Al-Muwatha’Li al-Imam Malik Ibn Anas al-Madani. Dll.
3. Kitab yang hanya berisi satu tema Agama saja, sebagai contoh :
a. Al-Ahkam Li’Abd al-Ghani ibn ‘Abd al-Wahid al-Muqdisi, dll.

d. Metode Takhrij melalui Pengetahuan tentang sifat khusus matan atau sanad hadist.

Yang dimaksud dengan metode takhrij ini adalah memperhatikan keadaan-keadaan dan sifat hadist yg baik yang ada pada matan dan sanadnya. Yang pertama diperhatikan adalah keadaan sifat yang ada pada matan, kemudian yang ada pada sanad lalu kemudian yang ada pada kedua-duanya.

Dari segi matan : apabila pada hadits itu tampak tanda-tanda kemaudhuan , maka cara yang paling mudah untuk mengetahui asal hadits itu adalah mencari dalam kitab-kitab yang mengumpulkan hadits-hadits maudhu. Dalam kitab ini ada yang disusun secara alfabetis antara lain kitab al-mashnu’al-hadits al-maudhu’ li al syaikh ‘alal qori al-syari’ah. Dan ada yang secara matematis, antara lain kitab tanzih al-syari’ah al-marfu’ah ‘an al-ahadits al-syafiah al-maudhu’ah li al kanani.
Dari segi sanad : apabila dalam sanad suatu hadits ada cirri tertentu, misalnya isnad hadits itu mursal, maka hadits itu dapat dicari dalam kitab-kitab yang mengumpulkan hadits-hadits mursal., atau mungkin ada seorang perowi yang lemah dalam sanadnya, maka dapat dicari dalam kitab mizan al-I’tidal li al- dzahahi.
Dari segi matan dan sanad : ada beberapa sifat dan keadaan yang kadang-kadang terdapat pada matan dan kadang-kadang pada sanad, maka untuk mencari hadits semacam itu, yaitu :
• ‘ilal al hadits li ibn abi hakim al-razi
• Al-mustafad min mubhamat al-matn wa al-isnad li abi zar’ah ahmad ibn al-rahim al-iraqi

2. Takhrij Tashhih
Cara ini sebagai lanjutan dari cara yang pertama di atas, yang menggunakan pendekatan takhrij dan al-naql.
Tashhih dalam arti menganalisis keshohihan hadits dengan mengkaji rawi, sanad dan matan berdasarkan kaidah. Kegiatan tashih dilakukan dengan menggunakn kitab ‘Ulum al-Hadits yang berkaitan dengan Rijal, Jarh wa al-Ta’dil, Ma’an al Hadits, Gharib al-Hadits dan lain-lain.
Kegiatatn ini dilakukan oleh mudawwin ( kolektor) sejak nabi saw sampai abad III Hijriyyah, dan dilakukan o;eh para syarih (komentator) sejak abad IV sampai kini.

3. Takhrij I’tibar
Cara ini sebagai lanjutan dari cara yang kedua di atas, I’tibar berarti mendapatkan informasi dan petunjuk dari literature, baik kitab yang asli, kitab syarah dan kitab Fan yang memuat dalil-dalil hadits.
Secara teknis, proses pembahasan yang perlu ditempuh dalam studi dan penelitian hadits sebagai berikut :
1. dilihat, apakah teks hadits tersenur benar-benar sebagai hadits.
2. dikenal unsur yang harus ada pada hadits, berupa rawi, sanad dan matan.
3. termasuk jenis hadits apa hadits tersebut, dari segi rawinya, matanya dan sanadnya.
4. bagaimana kualitas hadits tersebut?.
5. Bila hadits itu maqbul, bagalmana ta’amulnya, apakah ma’mul bih (dapat diamalkan) atau ghoir ma’,ul bih?
6. tekss hadits harus dipahami ungkapannya, maka perlu diterjemahkan.
7. memahami asbab wurud hadits
8. apa isi kandungan hadis tersebut
9. menganalisis problematika

C. Sejarah Takhrij Hadits
Kegiatan mentakhrij hadits muncul dan diperlukan pada masa ulama mutaakhkhirin. Sedang sebelumnya, hal ini tidak pernah dibicarakan dan diperlukan. Kebiasaan para ulama mutaqoddim menurut al’iraqi, dalam mengutip hadits-haditsnya tidak pernah membicarakan dan menjelaskan dari mana hadits itu dikeluarkan, serta bagaimana kualitas hadits-hadits tersebut, sampai kemudian datang an-Nawawi yang melakukan hal itu.
Adanya pemikiran tentang takhrij ini muncul dan diperlukan, ketika para ulama merasa mendapat kesulitan untuk merujukan hadits-hadits yang tersebar pada berbagai kitab dengan disiplin ilmu agama yang bermacam-macam. Mereka mengeluarkan hadits-hadits yang dikutip dalam kitab-kitab lain dengan merujukan pada sumbernya. Didalamnya juga dibicarakan kualitas-kualias kesohihanya. Dari perkembangan ini kemudian muncul kitab-kitab takhrij.
Ulama yang pertama kali melakukan takhrij menurut Mahmud ath-Thahhan, ialah al-Khatib al-Baghdadi (463 H).kemudian bermunculan kitab-kitab takhrij lainnya. Nemun menurutnya, yang paling baik ialah karya al-Zaila’I yang berjudul Nash bar-Rayah li Ahadits al-Hidayah.

DAFTAR PUSTAKA


Dr. Utang Ranuwijaya, MA. 2001. Ilmu Hadis. Jakarta : Gaya Media Pratama

Prof. Dr. H. Endang Soetari Ad, M.Si. 2008. Ilmu Hadits. Bandung : Mimbar Pustaka

Qadir Hasan, A. 2001. Ilmu Mustholah Hadits. Bandung : CV.Diponegoro

Faturrahman. Ikhtisar Mustolah Hadits

http : //www.google.co.id. Abu al-Jauzaa

Kamis, 14 Juli 2011

PENULISAN KARYA TULIS

PENULISAN KARYA TULIS


BAB I PENDAHULUAN
Kegiatan tulis menulis adalah sustu kegiatan dapat mengembangkan dan memberdayakan diri sendiri dan orang lain. Hal ini di karnakan bahwa subuah ide dan pemikiran akan lebih mudah untuk dipaparkan dalam sebuah tulisan, namun perlu dikatuhi bahwa dalam menulis sebuah ide yang baik perlu di dukung dengan pengethuan yang luas dan kemapuan menulis dan menyampaikan tulisan kepada audiens yang di kehendaki atau dituju, artinya ide dan pemikiran yang di tuangkan dalam tulisan tersebut dapat dengan mudah dipahami dan di mengerti oleh pembaca. Dengan demikian penulis dituntut untuk mampu mengunakan bahasa dan istilah yang benar susuai dengan ejaan yang disempurnakan ( EYD ) serta dapat mudah dipahami.
1.1 Pengertian dan Bentuk Karya Ilmiah
Karya Ilmiah adalah karya tulis yang di susun oleh seorang penulis berdasarkan hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Pada defenisi lain dikatakan bahwa karya ilmiah (Scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasikan yang memaparkan hasiil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah timdengan memenuhoi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Karya ilmuah dapat berwujud dalam bentuk makalah (dalam seminar atau symposium), artikel, laporan praktikum, skripsi, tesis,dan diserpasi yangbmerupakan hasil dari sebuah penelitian yang ilmiah.
1.2 Tujuan karya Ilmiah
Sebelum maasuk kepada pembahasan tentang penelitian perlu kairanya saya selaku pemakalah memaparkan terlebih dahulu tenyang apa tujuan dibuatnya makalah yang berjudul penulisan karya ilmiah ini, antara lain yaitu:
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah mempelajari Modul ini, diharapkan dapat memotipasi kita untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi diri dan menuangkan ide-ide dan pimikiran kita dalam sebuayh karya yang berbentuk tulisan.
1.2.2 Tujuan Khusus
penulisan karya ilmiah pada mahasiswa bertujuan:
- Menummbuhkan etos Ilmiah pada mahasiswa, sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi pencipta (produsen) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan.
- Sebagai sarana untuk melatih mengungkapkan pemikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk sebuah karya tulisan yang ilmiah dan sistematis serta metedologis.
- Untuk membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang di miliki mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk tulisan ilmiah
- Karya ilmiah yang ditulis itu diharapkan dapat menjadi wahana trnsformasi pengetahuan antara penulis dan pembacanya.
- Melatih kemampuan dasar untuk berkarya.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Unsur-unsur Penting dalam karya Ilmiah
Kalau kita telah memahami betul tentang tata cara pemakaian dan penulisan huruf,selanjutnya dalam penulisan karya ilmiah kita harus mengetahui unsure-unsur penting yang harus dipakai dan diterapkan dalam penulisan sebuah karya tulisan yaitu kita harus mengetahui kaidah tulisan secara umum juga. Kaidah itu menyangkutstruktur tulisan yaitu danya, pembukaan atau pndahuluan; inti/pembahasan dan pengembangan; dan penutup atau kesimpilan.
Bagian dalam satu tulisan itu dapat dijelaskan sebagai berikut;
2.1.1 Pendahuluan
Pendahuluan merupan proyek persoalan yang akan dibahas dalam sebuah tulisan. Dalam pendahuluan, dilakuakn pembatasan masalah dan pengertian-pengertian sehingga pembaca telah terbawa kearah tertentu. Meskipun tidak rumusan baku terkait dengan pendahuluan karya ilmiah yang harus dibuat, namun isi pokok dari pendahuluan adalah membangun argument; mengapa penulisan (penellitian) itu penting dilakukan. Dalam membangun sebuah argumen suatu karya ilimiah penulis bisa saja teraspirasi oleh keadaan atau dari hasil penelitian orang lain, data statistis, hasil bacaan jurnal penelitian, studi pustaka, pengamatan yang menceritakan terjadinya kesenjangan antara yang ‘’seharusnya’’(das sollen) dengan fakta-fakta social ‘’yang ada’’ (das sein),misalnya. Yang terpenting dalam pendahuluan hendaknya berisikan argumen mengapa suatu karya itu perlu dilakukan.
2.1.2 Inti/Pembahasan
Inti/Pembahasan merupakan tarap pemasaran pokok persoalan. Dan bagian ini biasa di sebut inti , pembahasan atau pengembangan. Penyebutan seperti bukan menjadi persoalan yang penting mudah di mengertisebagi bagian dari paparan persolaan pokok. Di bagian ini penulis menjalin gagasan secara sistematis dan logis dan menuangkan seluruh pikirannya tentang pokok yang dibahas, untuk menuju satu klimaks.
2.1.3 Penutup/ Kesimpulan
Penutup atau Kesimpulan adalah bagian akhir dari sebuah tulisan yang berisi kesimpulan, saran atau pendapatpenulis tentang poko persoalan yang dikemukannyasebagai arahan bagi pembqaca. Ada dua caraq penulisan penutup. Pertama, penutup yang bersipat terbuka, yaitu dengan memberi peluang dan kesempatan bagi pembaca agar menarik kesimpulan sendiri mengenai pokok persoalan yang dibahas. Kedua, penutup yang bersifat tertutup, yaitu penutup tulisan yang menyodorkan pendapat yang bersifat akhir. Pendapat yang bersipat akhir itu dibuat oleh penulis dan disodorkan kepada pembaca tanpa ada kesempatan bagi pembaca untuk menarik kesimpulan.
Disamping terhadap struktur penulisan makalah /karya ilmiah diatas, terdapatsejumlah aspek yang bharus juga diperhatikan dalam penulisan suatu karya ilmiah, yaitu:
1.Memilih tema
2.Merencanakan Penulisan Ilmiah
BAB III PENUTUP
3.1 Uregensi Penulisan Ilmiah
Penulis yang ingin berekpresi deengan karya tulisnya, tentu saja tidak menulis dengan samaunya . Ia mempunyai gagasan dan pemikiran yang ingin di sampaikan kepada orang lain.Ia tentu harus terlebih dahulu berpikir apakah orang lain bisa memahami apa yang ia sampaikan dalam tulisan tersebut. Sebab apabula cara penyampaiannya salah atau keliru, pembaca akan bisa memahaminya.
Ada tiga hal yang harus di perhatikan oleh seorang penulis yaitu;
1. Unsur Infomasi
2. Unsur Edukasi/pendidikan, dan
3. Unsur hiburan
Ketiga terpadu dalm satu karya tulis yang akan memberikan mamfaat yang menyenangkan pembaca. Dengan membaca satu tulisan, apakah irtu fiksi, seper6ti cerita pendek, puisi, ataunovel, maupun nonfiksi, missal tentang sejarah, ilmu kesehatan, flora dan fauna, pembaca memperoleh imformasi sekaligus juga dapat mempelajari sesuatu.
Kesimpulan
Jadi, dengan membaca sebuah buku atau artikel, seseorang pembaca dapat memahami informasi yang di sampaikan. Bacaan itu akan menambah menarik apabila berisi hal-hal yang ingin diketahui dan dipelajari. Selain itu hal-hal yang di sampaikan benar-beana memberi mamfaat.
Oleh karena itu hendak ada pada diri seorang penulis untuk berusaha memberikan yang terbaik dari karyanya, serta keberanian untuk menyampaikan pendapat dan kebebasan untuk berekpresi di arena tulis –menulis akan dihargai oleh masyarakat pembaca apabila ia memang memiliki kemaapuan untuk bertanggung jawab manfaat maupun kebenarannya.
Daftar Pustaka
- Assegaf, Jaffar. 1989. Tehnik Penulisan dan Jurnalistik, Bandung: Remaja Karya.
- Mangunharjana, AM, 1986. Tehnik menammbah dan mengembangkan ilmu pengetahuan . Yogyakarta: Kanisius.
- Sudiman, Yuwana Setya,1984. Penuntun Penyusunan Karya Ilmiah. Semarang:: Aneka Ilmu.
- Siregar, Ashadi, 1982. Bagaimana menjadi penulis media massa. Jakarta: karya unipers.
- S. Amran Tasai, Zaenal Arifin, 2002. Cermat Bahasa Indonesia, Jakarta: Penerbit Akademik Pressindo.
- Vrendebrec,1984. Metode dan tehnik penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.